Fenomena Mistis di Indonesia (Part 2): Jelangkung

Di pembahasan kali ini kita akan membahas tentang sebuah fenomena yang disebut dengan “jelangkung”. Ya, ini adalah sebuah cara berinteraksi dengan alam gaib melalui media tertentu.

Media tersebut bisa berupa jangka dan kertas, ballpoint dan kertas, atau yang paling fenomenal, gayung batok kelapa, spidol, dan papan tulis. Gayung batok biasanya ditambahkan bambu untuk “lengan”, diberi baju dan di tengahnya diikatkan sebuah spidol. Tak lupa ditancapkan di sebuah keranjang rotan berbentuk setengah lingkaran. Jika di film yang dipegang adalah gayungnya, maka aslinya yang dipegang adalah keranjang rotan tersebut agar Jelangkung bisa bergerak dengan bebas. Biasanya menggunakan persyaratan lainnya yaitu kemenyan, kembang tujuh rupa, rokok lintingan, dan kopi. Ritualnya biasa dilakukan di pinggir sungai dan benar-benar diadakan sebuah pesta kecil-kecilan, seperti adanya kendang untuk bernyanyi.

Almarhumah Eyang saya dulu pernah cerita waktu ia masih kecil ia sering bermain Jelangkung dengan menggunakan gayung yang ia curi bersama teman-temannya dari rumah seorang perawan. Ketika saya tanya mengapa harus perawan? Almarhumah Eyang saya hanya terkekeh dan menjawab “Kalau bukan perawan ntar Jelangkungnya ga mau datang.” Entah apakah jelangkung itu memang bermental pervert atau mungkin ada alasan lain. (Red: kalimat terakhir pacar saya yang menambahkan)

Permainan Jelangkung awalnya digunakan sebagai permainan anak-anak karena mereka tidak memiliki sarana bermain yang lain. Biasanya dilakukan menjelang malam Jumat Kliwon.

Kenapa malam Jumat Kliwon? Karena dalam sistem penanggalan Jawa (kejawen) malam Jumat Kliwon dipercaya sebagai malam keramat. Dipercaya bahwa penghuni-penghuni alam gaib senang keluyuran di malam keramat itu. Kira-kira seperti malam mingguan lah kalau di dunia manusia. Sebenarnya permainan Jelangkung bisa dilakukan di malam apapun. Tapi kalau mau hasil yang terbaik, ya di malam Jumat Kliwon.

Intinya, permainan Jelangkung adalah memanggil arwah/jin ke dalam media yang sudah dipersiapkan. Jika arwah yang dipanggil sudah datang, kita bisa berkomunikasi dengannya. Kita bisa bertanya banyak hal, mulai dari identitasnya, kenapa dia meningggal, sampai hal-hal absurd seperti nomer togel atau skor pertandingan sepakbola. Tapi untuk dua kategori terakhir, akurasinya jangan terlalu diharapkan.

Permainan ini bukannya tanpa resiko. Kalau yang datang ternyata arwah yang jahat, kita bisa diikuti terus-terusan. Bukan tidak mungkin juga kita harus mengantarkannya pulang ke tempat asalnya yang entah dimana. Kalau sudah begini jelas repot. Oleh karena itu, kalau tidak siap dengan resikonya lebih baik jangan coba-coba. Terkadang tidak hanya diri sendiri yang direpotkan, tetapi juga anggota keluarga lain yang tidak tahu menahu.

Berani mencoba? Siapkan saja alat-alatnya, sesajennya, lalu bacalah mantranya:
Jailangkung, jailareng. Di sini ada pesta kecil-kecilan. Datang tidak dijemput, pulang tidak diantar.
Sialnya, jarang ada yang bersedia pulang tanpa diantar. Jadi kalau masih nekat mencoba, silakan hadapi sendiri resikonya. Biasanya mereka minta diantarkan ke sungai yang mengalir atau pantai.

Akan lebih ampuh lagi kalau memakai bahasa Jawa, cuma kebetulan almarhumah Eyang saya tidak mau menyebutkannya. Jadi silahkan mencari tahu sendiri, ya. Adios!

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s